Marjinal Tolak Tambang Emas Tumpang Pitu

Mikail Israfil yang lebih dikenal sebagai Mike Marjinal terlihat begitu bersemangat saat Reno Farhan mengajaknya berdiskusi tentang penyelamatan Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu (Banyuwangi, Jawa Timur) dari resiko industri tambang emas.

Dari nyala matanya, tampak jika gitaris sekaligus vokalis band Marjinal itu tak asing dengan tema advokasi Tumpang Pitu. Ada kenangan tersendiri, begitu ujar Mike saat bercerita tentang Tumpang Pitu.

Selasa malam 28 Februari 2017, saat ditemui sebelum on stage di acara “Ibuku, Ibumu, Ibumi Kita Semua”, Mike bertutur ikhwal perkenalannya dengan tema Tumpang Pitu. “Setahun lalu, di Palembang. Persisnya saat aku menghadiri acara Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) Walhi. Ada seseorang dari Jawa Timur, Mas Giri namanya. Dia memintaku menyablon kaosnya dengan teknik cukilan kayu. Dia minta disablonkan pesan berisi penolakan tambang emas Tumpang Pitu. Dari sana kemudian aku dan dia ngobrol panjang,” ujar Mike penuh antusias.

Dalam acara yang berlokasi di Taman Baca Kesiman, Denpasar Bali, tersebut, Mike berpesan kepada Reno Farhan—anak Banyuwangi yang kini kuliah di Universitas Udayana Bali—agar terus merawat semangat juangnya. “Advokasi tambang dimana-mana itu durasinya panjang. Perlu energi besar. Perlu kesabaran. Perlu ketabahan. Tidak bisa sekali pukul kemudian lawan jatuh. Tidak bisa sekali aksi kemudian tambang akan berhenti. Butuh kemauan kuat untuk merawat nafas perjuangan karena yang kita hadapi bukan orang perorangan, tapi sebuah sistem yang pegang segalanya. Sistem yang pegang wewenang, uang, bahkan tentara,” papar Mike.

Malam itu, Mike Marjinal menjadi salah satu penampil sebuah acara yang bertujuan menyerukan Penolakan Reklamasi Teluk Benoa, Bali. Namun, meski begitu baginya persoalan Hutan Lindung Tumpang Pitu Banyuwangi (yang nota bene di luar Bali) adalah problematika yang dia pedulikan. “Karena nasibnya sama dengan Teluk Benoa. Sama-sama terancam oleh pragmatisme pemodal yang bersekongkol dengan sistem yang serakah. Apalagi dulu aku sempat dengar pasir Banyuwangi mau dijadikan bahan material untuk menimbun Teluk Benoa. Karena itu bagiku, luka Tumpang Pitu adalah luka Teluk Benoa juga. Otomatis jadi lukaku juga,” kata Mike berargumentasi.

Sayang sekali waktu begitu singkat. Seorang panitia datang memberitahu Mike jika beberapa menit lagi dia harus on stage. Reno dan Mike pun segera memanfaatkan sisa waktu. Di belakang panggung mereka meminta kepada kru dan panitia untuk mencari peralatan seadanya. Dengan alat-alat ala kadarnya itu Reno dan Mike membuat poster berisi pesan penolakan tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi.

Dengan poster sekenanya itu mereka pun berpose. Reno berkali-kali meminta maaf karena datang dengan spontan tanpa mempersiapkan poster sebelumnya. Mike hanya tersenyum. “Tak masalah. Yang penting pesannya nyampai,” kata Mike dengan nada maklum.

Panitia kembali datang untuk kedua kalinya. Mike diingatkan untuk segera ke panggung.
Mike meminta sedikit waktu. Kemudian kepada Reno dia berpesan untuk terus setia menyuarakan penolakan tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu. Musuh utama kita Cuma dua, imbuh Mike, yakni apatisme dan hedonisme.

“Titip salam untuk kawan-kawan Banyuwangi. Aku perform dulu ya,” kata Mike.

Reno pun beringsut dari belakang panggung. Dia berjalan menuju kursi penonton. Suasana malam di Jalan Sedap Malam Denpasar itu pun kian ramai. Tak hanya ramai karena bunyi-bunyi alat musik, tetapi juga gempita penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Gempita yang membuat tim balaforbanyuwagi ingin secepatnya membuat reportase. Gempita yang selalu membuat tim balaaforbanyuwangi mengingat pesan Mike kepada Reno.
“luka Tumpang Pitu adalah luka Teluk Benoa juga,” begitu bunyi pesan itu.

————–
Reportase tim balaforbanyuwangi
1 Maret 2017

Diterbitkan oleh forum banyuwangi

Media yang di kembangkan oleh warga

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai