Malam itu, Sabtu 11 Maret 2017, salah satu sudut Kertalangu, Denpasar, Bali tengah riuh. Distorsi gitar listrik berpadu gelegar drum dan teriakan penonton membuat adrenalin membuncah. Reno Farhan anak Banyuwangi yang kini kuliah Universitas Udayana (Unud) Bali itu bergegas menuju area belakang panggung Konser Soundsations. Tekatnya hanya satu, yakni menemui vokalis Navicula Gede Robi Supriyanto yang 3 tahun lalu pernah dijumpainya di lapangan parkir Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Reno malam itu telah siap dengan gulungan kertas manila putihnya yang bertuliskan “Menghitung Mundur Kerusakan Alam Banyuwangi, Save Tumpang Pitu, Save Banyuwangi”. Angan-angannya hanya satu, yakni bagaimana Robi Navicula berkenan berfoto bersama gulungan kertas manila yang sore hari sebelumnya telah dia siapkan.
Reno meyakini, jika angan-angannya terwujud, maka foto yang dicita-citakannya itu nantinya akan memompa semangat kawan-kawannya di Banyuwangi yang selama ini konsisten menolak tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu (HLGTP). Reno percaya, ada banyak cara untuk mendukung perjuangan penyelamatan HLGTP, dan salah satunya adalah menyebarluaskan foto Robi Navicula bersama gulungan kertas sederhana yang telah disiapkannya.
Ada faktor yang mendorong Reno yakin jika Robi Navicula bakal menyambut baik ajakannya. Faktor itu adalah momentum 4 tahun lalu yang disaksikannya saat dia masih berpredikat sebagai siswa SMA.
4 Tahun lalu di bulan September 2013, Navicula tampil sebagai band utama di malam inagurasi mahasiswa Untag Banyuwangi. Waktu itu Reno masih kelas X SMA. Beberapa menit sebelum Navicula tampil, Reno yang kala itu berkaos hitam sembari memegang buku tulis dan pulpen menemui Robi. Bak seorang wartawan, Reno yang saat itu usianya belum genap 16 tahun bertanya kepada Robi: apa yang bisa dilakukan anak SMA untuk Tumpang Pitu? “Tetap saja bergerak. Anak SMA itu anak muda. Menurut sejarah, perubahan itu dimulai dari generasi muda. Perubahan akan terjadi selama anak mudanya masih mau bergerak,” jawab Robi kala itu.
Tak cukup menitipkan pesan kepada Reno. Di panggung pun Robi juga berorasi tentang Tumpang Pitu. 4 tahun lalu di panggung malam inagurasi mahasiswa Untag Banyuwangi, sebelum menyanyikan lagu “Metropolutan”, Robi berpesan agar Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu dijaga. “Hutan itu ibarat paru-paru. Jika hutan kita rusak, maka seperti kita merusak paru-paru kita sendiri,” ujar Robi kala itu.
Seperti de javu, kenangan “bocah SMA” itu terulang lagi di malam minggu kemarin. Kali ini Reno tak sendiri. Dalam konser yang berlokasi di kompleks Gong Perdamaian Dunia, Denpasar itu ada anak Banyuwangi lainnya. Lintang Ferica Candra namanya. Lintang juga memiliki impian yang sama dengan Reno. Lintang yang merupakan anggota Mahasiswa Pecinta Alam Politeknik Banyuwangi (Mapala Poliwangi) itu juga ingin Robi Navicula men-support gerakan penolakan tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu.
Spontan rencana Reno mengalami perubahan. Jika awalnya, dia ingin berfoto bersama Robi Navicula untuk menyebarluaskan pesan penolakan tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu, kini dia mengajak Lintang anak Mapala Poliwangi itu.
Akhirnya, jadilah frontman Navicula itu diapit dua lare using (sebutan untuk anak asli Banyuwangi). “Dukungan saya dengan sepenuh hati buat teman-teman aktivis yang membela pelestarian lingkungan di kawasan Tumpang Pitu Banyuwangi,” kata Robi setelah berfoto bersama Reno, Lintang dan kertas manila putih itu.
Robi berpendapat, gerakan pelestarian lingkungan bukanlah gerakan anti-pembangunan. “Saya bukan orang anti pembangunan, tapi saya menginginkan pembangunan itu ada keseimbangan antara ekonomi dan pelestarian alam. Kalau semata-mata hanya ekonomi, saya pikir itu adalah tindakan yang sangat merusak, dan sama sekali tidak baik,” kata seniman yang juga mendukung gerakan Bali Tolak Reklamasi (BTR) itu.
Musisi yang juga aktif di dunia pertanian organik itu meyakini, setiap kegiatan yang mengubah landscape (bentang alam) dalam skala besar tidak akan bisa mengelak dari kerusakan lingkungan.
Sebagai informasi, kegiatan tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu adalah termasuk kegiatan yang mengubah bentang alam. PT Bumi Suksesindo (BSI) sebagai perusahaan yang akan mengeksploitasi emas di Tumpang Pitu berencana menggunakan sianida sebagai bahan pemurni emas yang diincarnya. Karenanya, BSI harus menyediakan lahan yang menjadi tempat sianida tersebut menjalankan perannya sebagai pemurni emas. Jika berdasarkan tabel 1.2 Fasilitas Penambangan (Dokumen Andal PT BSI halaman 1-7), maka setidaknya ada dua “arena bermain” bagi sianida tersebut menjalankan fungsinya. Pertama, “arena bermain” yang bernama Heap Leach Pad (Tempat Pelindian) dengan luas 57 hektar. Kedua, “arena bermain” yang bernama Ponds yang butuh area sebesar 24 hektar. Jadi, “arena bermain” bagi sianida total seluruhnya seluas 81 hektar, atau setara dengan luas 75 lapangan sepak bola.
Itu pun masih belum termasuk lubang tambang. Karena kelak BSI akan menerapkan metode open pit minning (penambangan terbuka), maka tentu saja nantinya akan ada lubang raksasa menganga di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu. Selain akan mengubah bentang alam dalam skala masif, lubang raksasa ini juga akan menurunkan fungsi kodrati Gunung Tumpang Pitu sebagai benteng alami yang melindungi warga dari daya rusak tsunami.
Pada tahun Juni 1994, tsunami pernah mendera desa-desa sekitar Gunung Tumpang Pitu. kerusakan terparah diderita Kampung Pancer, Desa Sumber Agung, Kec. Pesanggaran, Banyuwangi. Bagi sebagian warga, peristiwa terjangan tsunami 23 tahun lalu itu tak melulu menyisakan kesedihan, namun dibalik itu juga memberi pengetahuan berbasis kearifan lokal bahwa Gunung Tumpang Pitu adalah benteng alami yang melindungi warga dari daya rusak tsunami.
Sebagaimana kawasan selatan Pulau Jawa lainnya, daerah Tumpang Pitu dan sekitarnya merupakan kawasan rawan bencana (KRB). Catatan sejarah tentang tsunami di tahun 1994 tentunya kian mengukuhkan predikat Tumpang Pitu dan sekitarnya sebagai KRB. Sebagai KRB, kegiatan atau pembangunan yang menambah angka kerentanan KRB seharusnya dihindari. Rencana tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu tak hanya akan mengganggu flora dan fauna lindung, tetapi juga akan menambah angka kerentanan daerah Tumpang Pitu dan sekitarnya sebagai KRB. Sebagai kawasan lindung, seharusnya Gunung Tumpang Pitu dikonservasi untuk memperteguh perannya sebagai kawasan resapan air dan sebagai benteng alami pelindung warga dari daya rusak tsunami.
Gunung Tumpang Pitu mestinya dikonservasi, bukan malah ditambang. Robi Navicula pun berpendapat yang sama, bahwa semestinya Gunung Tumpang pitu dikonservasi.
“Tindakan teman-teman aktivis yang membela kelestarian lingkungan di kawasan konservasi Tumpang Pitu, saya pikir adalah tindakan yang sangat mulia. Karena saat ini yang kita harus rem itu adalah pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan,” pungkas Robi.
||
*reportase tim balaforbanyuwangi
12 Maret 2017
———————————————-