Kemukus di Gunung Salakan, (26/6/2025)

Melalui media sosial yang dimilikinya, seorang petani asal Desa Sumberagung (Kec. Pesanggaran, Banyuwangi) pada pukul 18.00 WIB (1/7/2025) mengunggah video tentang Kemukus (Piper cubeba) yang ada di Gunung Salakan.

Petani yang juga pegiat Kelompok Tani Hutan Wono Asih Makmur Sejahtera (KTH WAMS) tersebut merekam video ini pada 26 Juni 2025, sekira 09.00 WIB.

Selain menjadi antioksidan dan bahan ramuan kesehatan, kemukus juga jadi
bahan farmakope dan sumber minyak atsiri (oleum cubebae). Dalam industri rokok, kemukus adalah bahan penguat rasa.

Dengan kegunaannya yang banyak tersebut, maka tak heran jika kemukus memiliki nilai ekonomi yang lumayan tinggi. Di salah satu web transaksi online, harga kemukus kering (kemasan 500 gr) bervariasi antara Rp268.000 hingga Rp307.000

Sayangnya, keberadaan kemukus sebagai potensi ekonomi berkelanjutan ini tidak sepenuhnya aman. Hal tersebut dikarenakan Gunung Salakan yang jadi tempat tumbuhnya kemukus ini sewaktu-waktu bisa dibongkar oleh PT Damai Suksesindo (korporasi tambang yang berada di bawah naungan PT Merdeka Copper Gold Tbk).

Merdeka Copper Gold (dengan kode saham MDKA) pada tahun 2016, melalui anak perusahaannya yang bernama Bumi Suksesindo  (BSI) telah terlebih dulu mengeksploitasi emas Gunung Tumpang Pitu. Selanjutnya, di tahun 2017, lewat ekploitasi tersebut, BSI menghasilkan emas pertamanya.

Seolah tak puas dengan capaian tersebut, MDKA lewat anak perusahaannya yang lain, yakni Damai Suksesindo (DSI) mengincar G. Salakan.

Sebagai informasi, G. Salakan ini berada tak jauh dari G. Tumpang Pitu.

Untuk melancarkan niatnya mengeruk emas G. Salakan, DSI mengajukan izin eksplorasi kepada Gubernur Jatim. Ujungnya, pada 17 Mei 2018, Gubernur Jatim menerbitkan SK  No. P2T/83/ 15.01/V/2018, yang memberikan Izin Usaha Eksplorasi bagi DSI dengan luasan 6.558,46 hektar.

G. Salakan tak hanya menyimpan potensi ekonomi berkelanjutan seperti kemukus, tetapi juga menjadi jalur evakuasi warga jika tiba-tiba terjadi tsunami.

Sayangnya, penguasa lebih memilih merencanakan kehancuran ekonomi berkelanjutan dengan cara mengizinkan G. Salakan untuk ditambang. Sayangnya, pembuat kebijakan lebih kepincut kepada sumber ekonomi ekstraktif yang memiliki dampak negatif pada lingkungan, dibanding memilih potensi ekonomi berkelanjutan (semisal kemukus) yang secara ekologis memiliki daya pulih.

Tolak tambang emas Gunung Salakan!







Diterbitkan oleh forum banyuwangi

Media yang di kembangkan oleh warga

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai